Hikmah dari cinta
1. Cinta adalah proses ujian yg keras dan pahit dalam kehidupan manusia. Apakah cinta itu dalam perjalanannya akan menghantarkannya kepada jalan yg mulia atau menghempaskannya kepada jalan yg hina.
2. Jika tidak ada cinta maka di dunia ini tidak akan ada inovasi, pembangunan dan peradaban.
3. Keberadaan cinta merupakan faktor dominan dalam melestarikan eksistensi manusia dan interaksinya dengan sesama manusia.
“Jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau sujud kepadaNya?”
kadang2 ku termenung membaca kata2 tersebut dan menanyakan diriku ‘untuk apa aku sholat?’ namun jawabanya tak pernah ku temukan….
Memadamkan api dengan setetes air mata
“Segala sesuatu (di dunia ini) pasti memiliki timbangan dan takaran kecuali air mata, karena satu tetes darinya dapat memadamkan lautan api”.(Imam Ja’far Shadiq as.) Orang-orang yang menangis memiliki faktor yang beraneka ragam. Kadang-kadang faktor pendorongnya untuk menangis adalah kehilangan harta, putranya meninggal dunia, penyesalan atas dosa-dosa yang pernah dilakukannya, dan banyak faktor lain yang mungkin dimiliki oleh seseorang.Sebagai sarana mengekspresikan emosi, tetesan air mata mengkomunikasikan pesan dengan makna-makna tertentu. Ia mengekspresikan suasana hati yang terdalam, entah sedih, gembira, takut, atau sakit. Sehingga nilai air mata begitu istimewa, khusus, serta berkesan. Bukankah hati hanya bisa disentuh oleh hati lagi? Maka jangan heran, jika air mata bisa meluluhkan hati yang keras, serta menaklukkan sesuatu yang tidak bisa ditaklukkan dengan pedang.
Pada suatu hari di majelis Rasulullah SAW, Ketika itu para sahabat sedang menangis tatkala Rasulullah SAW menyampaikan untaian-untaian tausiyah kepada para sahabatnya, bahkan Beliau sendiri menyampaikan nasehatnya dengan suara parau. Namun tidak demikian dengan seorang sahabat, sahabat tersebut adalah seorang pemuda yang kebetulan menghadiri majlis Rasulullah, tak setetes pun air mata keluar dari kelopak matanya. Ia sendiri merasa aneh, sehingga menanyakannya kepada Rasulullah penyebab dirinya sangat sulit menangis. Rasulullah pun menjelaskankan semua hal yang menyebabkan sang pemuda tidak meneteskan airmata, ternyata dari penjelasan Rasulullah, semuanya bermuara dari satu hal, yaitu cinta dunia hingga akhirnya melupakan akhirat.
Sesungguhnya, air mata pun bisa menjadi alat komunikasi yang sangat canggih antara seorang hamba dengan Tuhannya. Betapa tidak, tetesan air mata di jalan Allah bisa memadamkan kobaran api neraka. Rasulullah SAW bersabda, Tidak akan masuk neraka, seseorang yang menangis karena takut kepada Allah. Itulah maksud dari hadits Imam Ja’far Shadiq di atas. Jika kita merujuk kepada riwayat, kita akan dapatkan bahwa menangis memiliki efek-efek positif yang dapat bermanfaat bagi diri manusia. Di antaranya, menangis dapat melunakkan hati. Tentunya, tidak semua tangisan dapat memiliki efek seperti itu. Tangisan yang dapat memadamkan lautan api itu adalah tangisan yang muncul dari rasa penyesalan terhadap dosa yang pernah dilakukan oleh seseorang. Tangisan seperti inilah yang dapat memadamkan lautan api neraka yang dikobarkan oleh dosa-dosa seorang hamba.
Air mata juga bisa mendatangkan pertolongan Allah di akhirat kelak. Dalam sebuah hadis disebutkan, bahwa ada tujuh golongan manusia yang akan ditolong Allah pada Hari Kiamat, ketika tiada lagi pertolongan selain pertolongan dari-Nya. Salah satunya adalah orang yang menangis di keheningan malam ketika orang-orang terlelap tidur. Ia menangis karena besarnya rasa takut dan harap kepada Allah. Air mata pun bisa mempercepat ijabahnya doa-doa. Efek tetesannya mampu menembus batas-batas dimensi ruang dan waktu. Semog Allah senantiasa melunakkan hati-hati kita agar dapat selalu menangisi dosa-dosa.
berpuasa saat perjalanan
Diriwayatkan dari Ibn Abbas r.a. : dalam keadaan berpuasa pada bulan Ramadhan Rasulullah Saw berangkat ke Mekkah. Ketika sampai di Al-Kadid, Nabi Muhammad Saw berbuka puasa dan orang-orang (yang ikut bersamanya) juga berbuka puasa. (Abu Abdullah berkata,”Al-Kadid adalah sebuah tempat berair di antara Usfan dan Kudaid”) Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah r.a. : dalam suatu perjalanan Rasulullah Saw melihat seseorang yang sedang dinaungi oleh sekelompok orang. Nabi Saw bertanya,”apa yang terjadi?” mereka berkata,”laki-laki itu tengah berpuasa”. Nabi Saw bersabda,”bukanlah bagian dari kebaikan (birr) berpuasa pada saat melakukan perjalanan”.
I kissed her lips. Full, sweet strawberry lip balm coating I wanted to drink. It’s amazing how she had a way of bringing me to the edge of my sanity. I wanted her in me. I know it’s not a healthy desire but holding her close was not enough. The fact the she held my heart where hers should be was…
No Resolution
A review of Lauren Berlant’s Cruel Optimism at the beginning of the end.
By Jenna Brager
Lauren Berlant wants you to break your New Year’s resolutions. Or at least she wholly understands your impending failure to keep them. So go ahead, smoke another cigarette. Smoke whatever you can find. Down a few more 100-calorie snack packs. Eat a whole goddamn box of 100-calorie snack packs. Fuck 100-calorie snack packs, find some actual cookies and eat all of them. Eat whatever you can find. Don’t give up caffeine. Don’t work harder. Slack off. Don’t get a promotion. Keep drinking. Drink more. Ignore your new gym membership. Pick up new bad habits. Hone your bad habits into an art form. Master the art of sustaining your bad habits, because your bad habits are what sustain you.
After all, bad habits are lifesavers we cling to in the face of the fraying and always already toxic “good-life fantasies” we wallow in, in the face of becoming totally unmoored. Are you really that guilty about your guilty pleasures? What exactly were you hoping for anyway?
In her new book Cruel Optimism, University of Chicago English professor Lauren Berlant describes the titular phrase as “when something you desire is actually an obstacle to your flourishing.” We cling to the fantasy that “this time, nearness to this thing will help you or a world to become different in just the right way.” This time she’ll really love you. This time you’ll lose the weight. This time you’ll make enough money. This time the candidate’s promises will last after election night. This time the mission will really be accomplished. This time, you will be happy. Except, you know, you won’t. At least not for long.
Happy fucking New Year.
(Source: thenewinquiry)
Randomly: a few of my favorite Observer pieces from this year, in no particular order:
A Twee Grows in Brooklyn: the Portlandification of the increasingly bourgeois borough by Adrianne Jeffries
Almost Amis by Christian Lorentzen
Peter Braunstein Still Has Issues by Aaron Gell

